Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya,Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda Sudimara,Tabanan dikisahkan dalam Prasasti Maospahit bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Sabtu, 24 Maret 2012

Makalah Prof Sumadiastra






Senin, 19 Maret 2012

SELAMAT HARI RAYA NYEPI CAKA 1934

Jumat, 16 Maret 2012

YAYASAN GARBHA NUSANTARA

YAYASAN
 GARBHA NUSANTARA 
Kantor Pusat di  Jln. Plawa No 37 Denpasar  Bali Tlp (0361) 224109 (Ext. 107) Fax. (0361) 235860

INFORMASI  KHUSUSNYA UNTUK PARA SEMETON SRI KARANG BUNCING

Ada 2(dua) program penting yang diluncurkan Yayasan Gargha Nusantara pada tahun ini yaitu

1.      PROGRAM ANAK ASUH
a.      Program anak asuh diluncurkan tahun ini khusus untuk anak yang akan masuk sekolah kejuruan (SMK) dengan pertimbangan, tamatannya diharapkan dapat langsung masuk pasar tenaga kerja;

         b.      Program Anak Asuh diberikan dalam bentuk Bantuan  Bea Siswa dalam bentuk Lumpsum dan jumlahnya untuk siswa baru dalam tahun ajaran baru 2012 adalah jumlah rata-rata  dari uang gedung, uang spp atau uang komite, uang pakaian, uang sepatu, uang transport,  dll sedangkan untuk tahun berikutnya (bagi siswa kelas 2 (dua) dan 3(tiga) ditetapkan dengan metode yang sama dengan perhitungan pada tahun pertama, tanpa uang gedung.

         c.      Uang Lumpsum tidak dipertanggung jawabkan berdasarkan jumlah riil pengeluaran tetapi bentuk pertanggung jawabannya adalah  bahwa si Anak Didik dapat menyelesaikan tugas sekolah tiap-tiap  akhir tahun ajaran dengan baik  dengan nilai yang dipersyaratkan oleh Pengelola Program.

         d.      Untuk menentukan jumlah tsb pada huruf  b di atas, Pengelola Program perlu melakukan survey ke beberapa SMK.  Untuk keperluan tersebut perlu dibuatkan surat pengantar kepada petugasYayasan  yang ditunjuk melakukan survey.

         e.      Yayasan cq Pengelola Program Anak Asuh, membuat brosur untuk diserahkan/ dikirimkan kepada calon calon  Bapak Asuh.

         f.       Anak Asuh  dari keluarga Pasemetonan Sri Karang Buncing yang kurang mampu, untuk pertamakalinya ditetapkan oleh Yayasan  cq Pengelola Program Anak Asuh setelah
                  mendapat masukan atau usulan dari anggota Pengurus Pusat Pasemetonan Sri Karang Buncing dan atau anggota Pengurus Pasemetonan Sri Karang Buncing dari Kabupaten/ Kota yang tinggal satu Desa dengan Calon Anak Asuh yang secara langsung mengamati kehidupan orang tua anak asuh tersebut.

         g.      Pengelola Program Anak Asuh dapat melakukan wawancara atau pengamatan  sebelum penetapan yang bersangkutan sebagai Anak Asuh.

         h.      Jumlah uang lumpsum huruf  b. di atas diberikan untuk bea siswa selama 1 (satu) tahun ajaran, yang diserahkan langsung kepada Anak Asuh  melalui Rekening atas nama Anak Asuh yang bersangkutan. Bea Siswa untuk tahun ajaran berikutnya dapat diteruskan jika si Anak Didik dapat menunjukkan prestasinya.
        
2.      MENDIRIKAN KOPERASI

a.      Penyaluran kredit dapat dilakukan untuk masyarakat  luas tetapi  pada tahap awal diprioritaskan kepada Anggota Koperasi.

b.      Jumlah Anggota Pendiri minimal 25 (dua puluh lima) orang tetapi hal ini tidak perlu dibatasi bagi calon pendiri yang sanggup menyetor  uang simpanan khusus atau sukarela sebesar minimal Rp.1.000,000,- (satu juta rupiah) Bagi anggota lainnya yang  bukan sebagai pendiri  tidak dipersyaratkan menyetor  simpanan sukarela Rp1.000,000.- tersebut

         c.      Segera lakukan pendaftaran calon Pendiri  dengan syarat:
1)   Bersedia menyetorkan uang minimal sejumlah Rp. 1.110.000,- (satu juta seratus sepuluh ribu rupiah) dengan perincian sebagai berikut: Simpanan pokok sebesar Rp.100,000,- simpanan wajib sebesar Rp. 10.000,- (untuk bulan pertama) namun bisa dilunasi untuk 1 (satu) tahun anggaran dan uang Simpanan sukarela minimal sebesar Rp.1000,000,-  Uang sejumlah Rp1.100.000,- tersebut dapat disetor langsung atau melalui rekening BRITAMA, Yayasan Garbha Nusantara  pada BRI Cabang Denpasar Gajah Mada, Nomor 0017-01-066001-50-4

                  2)   Menyerahkan foto copy KTP pada saat  pendaftaran sebagai Calon Pendiri Koperasi.

                  3)   Bersedia hadir pada rapat perdana Pendirian Koperasi yang akan ditentukan kemudian (Direncanakan rapat pendirian Koperasi) pada pertengahan bulan April.

Mari bergabung dalam  ke dua Program tersebut  baik sebagai Bapak Asuh  atau Anggota Pendiri Koperasi

Denpasar,  14 Maret 2012
An Pengurus Yayasan Garbha Nusantara

                                                                     Sekretaris


                                                            I NYOMAN SUDANA

Untuk pendaftaran sebagai Bapak Asuh dan Anggota pendiri  Koperasi 
Made Agus Mahendra  Karyawan Yayasan































PERSYARATAN PENDAFTARAN SEBAGAI ANGGOTA PENDIRI
KOPERASI GARBHA SANTI


1.      Para Calon Anggota Pendiri diharapkan bersedia menyetorkan uang  sejumlah
         Rp. 1.110.000,- (satu juta seratus sepuluh ribu rupiah) dengan perincian sebagai berikut:
a.      Simpanan pokok sebesar                                       Rp.   100,000,-
b.      Simpanan wajib bulan pertama sebesar                 Rp.     10,000.-
c.      Simpanan khusus Pendiri                                      Rp. 1,000,000.-

         Uang tersebut diatas dapat disetor langsung saat pendaftaran atau dapat disetor melalui rekening BRITAMA, Yayasan Garbha Nusantara  pada BRI Cabang Denpasar Gajah Mada, Nomor 0017-01-066001-50-4   Bukti setor agar disampaikan melalui Pos  ke Kantor Yayasan Garbha Nusantara Jalan Plawa nomor 37 Denpasar atau melalui fax Sekretariat PSKB 0361 226599

2.      Menyerahkan foto copy KTP pada saat  pendaftaran sebagai Calon Pendiri Koperasi.

3.      Bersedia hadir pada rapat perdana Pendirian Koperasi yang akan ditentukan kemudian (direncanakan rapat pendirian Koperasi pada  bulan April 2012).

4.      Sebagai anggota biasa kewajiban sama dengan butir 1 kecuali Simpanan Khusus tidak diwajibkan  dan tidak perlu menghadiri rapat Pendiri Koperasi

5.      Terimakasih atas perhatian dan kesediaan menjadi Anggota Pendiri Koperasi


A.n Pengurus  Yayasan Garbha Nusantara
Ketua Umum                                                              Sekretaris



I MADE PALAYUTA                                               I NYOMAN SUDANA 

Bale Panjang Kebo Iwa di Pura Puseh Beda, Tabanan

Relief kebo iwa di bataran bale panjang di jaba pura puseh Beda ,, ,, kemungkinan penggambaran kebo iwa dalam pengairan subak ,,


Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda, Sudimara, Tabanan ,, dikisahkan dalam Prasasti Maospahit, bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa ,,, dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter ,,, masih menjadi pertanyaan, apakah sepanjang itukah beliau, atau bale panjang ini untuk menampung pengiring2 beliau dalam perjalanan menuju Jawa> Di tempat ini kemungkinan tempat transit dari Blahbatuh terus bermalam dan esoknya menuju Srijong. Pura Srijong adalah tempat tambat perahu/ jukung kebo iwa menyebrangi lautan ke jawa. Dari desa Soka ke barat kemungkinan masih hutan belantara, belum terjadi pembukaan hutan untuk persawahan. Di Kab, Jembrana sama sekali tidak ditemui perasasti2 yg dikeluarkan oleh raja2 bali kuno atau yg menyebutkan untuk desa di wilayah jembrana Dalam prasasti Bali Kuno tidak dijumpai nama Jembrana, batas barat hanya sampai kab, Tabanan ,, Bale Panjang ini menurut penduduk setempat di empon oleh 24 Desa Pakraman dani tidak digunakan penempatan pratima pura dari 24 desa tsb dalam acara pemelastian rutin tiap tahun ,, Jika acara pemelastian di desa setempat telah selesai dari segara akan langsung ke pura masing2. Tidak seperti desa lain pratima masing2 pura prasanak akan distanakan di bale agung/ bale panjang di jaba pura desa. Pratima akan makemit sampai hari pangerupukan ,, Dan umumnya bale panjang terletak di jaba Pura Desa bukan di jaba Pura Puseh ,, perlu kajian lebih lanjut ,,


Terbuat dari bahan padas relief Kebo Iwa sedang mengerjakan sesuatu ,,, masih tanda tanya sedang apa ya ,, ???


Jaba Pura Puseh Beda, Sudimara, Tabanan ,, di empon oleh 24 Desa Pakraman yg ada di Tabanan ,, Bale Panjang kiri gambar (sayang tak keliatan ,,

Tapak Kaki Kebo Iwa di Pura Pengukur-ukuran, Pejeng

TAPAK KAKI ,, diceritakan tapak kaki Kebo Iwa ,, ukurannya 28,5 CM berbeda dgn Tapak Kaki yg ada di Pura Pucak Padang Dawa, Desa Bangli, Baturiti, Tabanan berukuran 65,5 CM selisih 37 CM ,, berbeda Tapak Kaki yg ada di Tapak Karang, Apuan, Baturiti, Tabanan berukuran 75 CM ,
Goa garba ,, dlm babad disebutkan disini tempat Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten mengetes kesaktian Kebo Iwa dgn prajurit lainnya ,,
tangga dikurung sabitan bambu tempat tapak kaki Kebo Iwa ,, jalan menuju Goa Garba ,,
Ceruk - ceruk dgn huruf pranegari terpahat di atasnya ,,

Tapak Kaki Kebo Iwa di Pura Pucak Padang Dawa, Bangli, Baturiti.



Tapak kaki yg terletak utara tembok Pura Pucak Padang Dawa, Baturiti, Tabanan. Tapak Kaki kanan yg diceritakan jejak Kebo Iwa berukuran 65,5 CM beselisih dgn ukuran tapak kaki yg ada di Pura Pengukur-ukuran, Pejeng, Gianyar ,, Purana Pura Luhur Pucak Padang Dawa ( Sudarsana, Kt. Desa Bangli, Baturiti, Tabanan, 2001), Sekarang tersebut Sanghyang Siwa Pasupati setelah terbang diangkasa membawa bongkahan gunung yang diambil dari Gunung Mahameru, selanjutnya beliau berstana di Puncak Candi Purusada yang merupakan cikal bakal adanya Pulau Bali, dimana Tuhan Yang Maha Esa bagi orang-orang Bali juga diberi sebutan Bhagawan Mangga Puspa yang dilukiskan dengan perawakan yang amat besar dan kekar dan juga disebut Bhatara Tengahing Segara dan lama kelamaan beliau mempunyai seorang putra yang perawakanya juga tinggi kekar, yang diberi nama Dewa Gede Kebo Iwa Sinuhun Kidul, yang selanjutnya Dewa Gede Kebo Iwa menjadi raja di Pulau Bali dengan gelar Raja Pajenengan / Sanghyang Sinuhun Kidul. 

Sanghyang Sinuhun Kidul/Dewa Gede Kebo Iwa yang merupakan Awatara dari Sanghyang Brahma yang mana beliau mempunyai banyak sebutan bagi orang Bali seperti misalnya: 


• Tatkala masih perjaka disebut Ki Taruna Bali.
• Pada saat menjadi raja bergelar Sanghyang Sinuhun Kidul.

• Pada waktu beliau membawa Tattwa Usadha dan Tattwa Kadyatmika bergelar Ida Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat.
• Pada saat beliau berstana di Gunung Gumang, bergelar Bhatara Gede Gunung Gumang.
• Tatkala beliau bersatu dengan Bhatara Kala dan berstana di Bale Agung disebut Bhatara Gede Sakti.
• Pada saat beliau mendirikan parahyangan di Bali bergelar I Dewa Gede Kebo Iwo.
• Tatkala beliau membawa tempat tirta lengkap dengan busana seperti gelang kana serta salipet kiwa tengen disebut Ida Bhatara Guru.

Beliau juga bergelar Bhatara Amurbeng Rat, manakala menciptakan tempat-tempat air seperti, Telaga Waja, Tirtha Bima, Tirtha Wahyu, Tirtha Sudhamala, Tirtha Erbang, Tirtha Mambar-mambur, Tirtha Sapuh Jagat, dan Tirtha Pasupati, yang letaknya tersebar di pulau Bali 


Sekarang tersebutlah Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat merangsuk Buddha Berawa dengan merubah wujudnya menjadi Barong, karena pulau Bali ini ditimpa oleh mara bahaya yang ditimbulkan oleh kekuatan magis dari Kala Durgha Kalika Joti Srana dan pada perjalanannya beliau menuju kebarat dan akhirnya beliau tiba di Pucak Padang Dawa, dan akhirnya beliau bertemu dengan Sanghyang Wulaka dengan perawakan hitam kemerah-merahan, rambutnya ikal agak merah, dengan mendelik bagaikan singa yang lapar serta bersenjatakan Pedang Dangastra, beliau itu merupakan sumber dari segala kesaktian, dan karena Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat merubah wujud beliau menjadi Barong, maka mulai sejak itu rencang dari Bhatara yang berstana di Pura Luhur Pucak Padang Dawa berupa Barong Ket, Barong Landung, Barong Bangkal, serta merupakan Dewanya Taksu kesenian, beliau juga dewanya para Dukun seperti Balian Engengan, Balian Katakson, Balian Usadha, Balian Konteng diwilayah Pulau Bali.

Tapak kaki ini akan terlihat jelas jika memandang dari arah timur ,, takan kelihatan jika baru masuk atau dari arah utara ,, Ntah si penulis kena ilusi dari spirit lingkungan, penulis melihat ketebalan nya 1 CM ,, dalam poto ini tak tampak ketebalan tapak kaki itu ,, seolah2 rata permukaan ,,


salah satu tetua desa poto depan "penyengker" tapak kaki tsb ,,

Rabu, 07 Maret 2012

Kepalan Tangan Kebo Iwa di Pura Panti Karang Buncing, Kuta

Pura Panti Karang Buncing Kuta

Ketua warga, I Made Sunarca, mengatakan persebaran keturunan Sri Karang Buncing dari Blahbatuh ke daerah Kuta tercantum dalam
Lontar Piagem Dukuh Gamongan, berbunyi:
Mangke caritanen Treh nira Sri Karang Buncing, risapamadegan nira Sri Kresna Kepakisan Baturenggong, anugrahaken desaparadesa maring sira Bandesa Karang Buncing ndyata, Karang Buncing Kuta ngamong pradesa Jimbaran, mwah Bandesa Silabumi, Bandesa Sraya,Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu,
Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, mwang Bandesa Sibetan, mula Treh Sri Karang Buncing, mapalarasan saking Batahanyar.

Arti Bebas:
[Berikut diceritakan treh beliau Sri Karang Buncing, di zaman pemerintahan Baginda Sri Kresna Kepakisan Baturenggong,menganugrahka
n kepada Bandesa Karang Buncing, sebagai pucuk pimpinan di desa desa, Karang Buncing Kuta, menjadi pucuk pimpinan desa wilayah Jimbaran, serta Bandesa Silabumi,
Bandesa Seraya, Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu, Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, juga Bandesa Sibetan, memang keturunan Karang Buncing, memang asalnya Batahanyar.

Dalam Usana Bali dijelaskan, kang panghulu kasinungan Jro Gede Karang Dimade demikang juesta ring Sema Kuta Negara, artinya adalah orang kepercayaan bernama Jro Gede Karang Dimade yang
utama bertempat tinggal di daerah suci Desa Kuta.

Yang dimaksud tempat suci di sini kemungkinan Pura Sarin Buwana, di Desa Jimbaran, Kuta Selatan. Pura Sarin Buwana termasuk Kahyangan Jagat Jimbaran bekas pertapaan Sri Batu Putih kakak kandung dari Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna Bumi Banten) raja kerajaan Batahanar (Bedulu). Sejarah keberadaan Pura Sarin Buwana dan beberapa nama tempat yang ada di wilayah Jimbaran tertulis sangat jelas dalam Lontar Piagem Dukuh Gamongan. Benda tinggalan kuno yang terdapat di Pura Sarin Buwana berupa: lingga yoni jangkep, arca perwujudan dewa-dewi, arca siwa bhairawa, dan puluhan arca batu kecil. Pura Sarin Buwana di-mong oleh Warga Sri Karang Buncing yang ada di Jimbaran dan pangempon pura seluruh umat Hindu di Desa Jimbaran dan beberapa kelompok warga berasal dari luar Desa Jimbaran. Demikian dikatakan oleh kelian Pura Sarin Buwana, I Made Sudiarsa, Banjar Ubung, Jimbaran.

Setelah Ki Tambyak kalah sebagai penjaga keamanan wilayah Jimbaran serta keturunan Sri Batu Putih (Dalem Putih) yaitu Dalem Petak Jingga juga tidak jelas kehidupannya. Pasca peralihan kekuasaan masih terjadi kekacauan di desa-desa yang ada di Bali,
untuk meredam kemarahan masyarakat Bali Mula oleh Sri Kresna Kepakisan Baturenggong maka diangkatlah keturunan Sri Karang Buncing sebagai kepala desa yang ada di Bali salah satunya Karang Buncing Kuta ngemong pradesa Jimbaran artinya Karang Buncing
Kuta sebagai kepala desa yang mewilayahi dari Kuta sampai di Jimbaran. Dari Kuta persebarannya ke Desa Jimbaran, Munang Maning, Tainsiat, Denpasar, dengan jumlah kepala keluarga 150 KK, ikut mengampu Pura Panti Sri Karang Buncing yang terletak di Jalan Bunisari, Kuta


Pura Panti Karang Buncing Kuta

Ketua warga, I Made Sunarca, mengatakan persebaran keturunan Sri Karang Buncing dari Blahbatuh ke daerah Kuta tercantum dalam
Lontar Piagem Dukuh Gamongan, berbunyi:
Mangke caritanen Treh nira Sri Karang Buncing, risapamadegan nira Sri Kresna Kepakisan Baturenggong, anugrahaken desaparadesa maring sira Bandesa Karang Buncing ndyata, Karang Buncing Kuta ngamong pradesa Jimbaran, mwah Bandesa Silabumi, Bandesa Sraya,Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu,
Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, mwang Bandesa Sibetan, mula Treh Sri Karang Buncing, mapalarasan saking Batahanyar.

Arti Bebas:[Berikut diceritakan treh beliau Sri Karang Buncing, di zaman pemerintahan Baginda Sri Kresna Kepakisan Baturenggong,menganugrahka
n kepada Bandesa Karang Buncing, sebagai pucuk pimpinan di desa desa, Karang Buncing Kuta, menjadi pucuk pimpinan desa wilayah Jimbaran, serta Bandesa Silabumi,
Bandesa Seraya, Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu, Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, juga Bandesa Sibetan, memang keturunan Karang Buncing, memang asalnya Batahanyar.

Dalam Usana Bali dijelaskan, kang panghulu kasinungan Jro Gede Karang Dimade demikang juesta ring Sema Kuta Negara, artinya adalah orang kepercayaan bernama Jro Gede Karang Dimade yang
utama bertempat tinggal di daerah suci Desa Kuta.

Yang dimaksud tempat suci di sini kemungkinan Pura Sarin Buwana, di Desa Jimbaran, Kuta Selatan. Pura Sarin Buwana termasuk Kahyangan Jagat Jimbaran bekas pertapaan Sri Batu Putih kakak kandung dari Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna Bumi Banten) raja kerajaan Batahanar (Bedulu). Sejarah keberadaan Pura Sarin Buwana dan beberapa nama tempat yang ada di wilayah Jimbaran tertulis sangat jelas dalam Lontar Piagem Dukuh Gamongan. Benda tinggalan kuno yang terdapat di Pura Sarin Buwana berupa: lingga yoni jangkep, arca perwujudan dewa-dewi, arca siwa bhairawa, dan puluhan arca batu kecil. Pura Sarin Buwana di-mong oleh Warga Sri Karang Buncing yang ada di Jimbaran dan pangempon pura seluruh umat Hindu di Desa Jimbaran dan beberapa kelompok warga berasal dari luar Desa Jimbaran. Demikian dikatakan oleh kelian Pura Sarin Buwana, I Made Sudiarsa, Banjar Ubung, Jimbaran.

Setelah Ki Tambyak kalah sebagai penjaga keamanan wilayah Jimbaran serta keturunan Sri Batu Putih (Dalem Putih) yaitu Dalem Petak Jingga juga tidak jelas kehidupannya. Pasca peralihan kekuasaan masih terjadi kekacauan di desa-desa yang ada di Bali,
untuk meredam kemarahan masyarakat Bali Mula oleh Sri Kresna Kepakisan Baturenggong maka diangkatlah keturunan Sri Karang Buncing sebagai kepala desa yang ada di Bali salah satunya Karang Buncing Kuta ngemong pradesa Jimbaran artinya Karang Buncing
Kuta sebagai kepala desa yang mewilayahi dari Kuta sampai di Jimbaran. Dari Kuta persebarannya ke Desa Jimbaran, Munang Maning, Tainsiat, Denpasar, dengan jumlah kepala keluarga 150 KK, ikut mengampu Pura Panti Sri Karang Buncing yang terletak di Jalan Bunisari, Kuta



Tetua warga yang diceritakan secara lisan oleh orang tuanya, mengungkapkan di samping selatan Pura Panti dulunya berdiri sebuah Bale Banjar yang disebut Banjar Gianyar. Karena perkembangan pemerintahan selanjutnya disamping populasi warga kian bertambah, maka tanah bale banjar itu dijadikan tempat tinggal oleh keturunannya. Demikian untuk warga Sri Karang Buncing yang ada wilayah Kuta dan Jimbaran, selain mengempon Pura Panti Karang Buncing, Kuta dan Pura Sarin Buwana, Jimbaran, juga mengempon di masing-masing merajan dewa hyang milik beberapa kelompok keluarga.

Pura Luhur Serijong, 'Pwaregan' (dapur) Kebo Iwa

Petunjuk Pura Pewaregan Suci Kebo Iwa ,,,,,,


Goa kelelawar yg terletak dibawah Pura Srijong ,, hidup ribuan kelelawar didalam goa itu ,,, disamping kanan palinggih pedanuan toya suci


Jero Mangku Gede Pura Luhur Srijong mengartikan kata Srijong berasal dari kata Sri dan Jong, Sri = Dewi Kemakmuran dan Jong = Tempat, jadi Srijong adalah tempat nunas kemakmuran. Beliau mengatakan pura ini didirikan sekitar th 1990 tatkala jero mamgku mendapakan pawisik untuk menstanakan palinggih Ratu Ngurah Gde Kebo Iwa di pelataran Pura Srijong


Pura Luhur Srijong terletak di Desa Soka, Tabanan, di ampu oleh 34 desa adat. Catatan tertulis Prasasti Maospahit dgn bahasa kekinian karena Ida Kebo Iwa tidak punya tempat maka ia mendirikan Bale Panjang yg disebut Bale Agung yg ada di Pura Puseh Beda, serta mendirikan dapur (pewaregan) di Desa Srijong. Jarak tempuh dari Desa Srijong ke Desa Beda sekitar 30 KM. Banyak cerita di sini tempat pengorengan berupa bukit kecil berada di tengah muara sungai dan laut, timur pura. Pakta lapangan mari kita kupas arti kata SRIJONG, berasal dari bahasa Jawa Kuno, Sri = Raja, yg mulia dan Jong = Jukung, Perahu. Jadi Srijong adalah Perahu Raja, kemungkinan tankala Kebo Iwa mau berangkat ke Jawa atas undangan Gajahmada mau dipinang dgn gadis Majapahit, dari tempat ini beliau naik jukung menyebrangi lautan menuju Jawa. Dalam catatan kuno Kabupaten Jembrana belum ada, masih hutan belantara, belum pembukaan hutan untuk sawah hanya. Disamping bukti lain tidak terdapatnya tinggalan prasasti raja2 Bali Kuno di Jembrana. Jembrana asala kata Jimbaran, karena nelayan dari Desa Jimbaran, Kuta Selatan berlabuh tempat itu, tepatnya di Desa Baluk, Kec, Negara Kota. Kemungkinan lama kelamaan menjadi Jembrana adalah persesuai bunyi dari Jimbaran yg tentunya masih melekat dari kata sebelumnya




Sri Kebo Iwa kakak kandung Sri Karang Buncing mempunyai banyak sebutan dlm memuliakan namanya, oleh masyarakat sekitar, salah satunya Ratu Ngurah Gde Kebo Iwa, stana suci yang terdapat di Pura Srijong, Soka, Tabanan. Nama2 lain dari Sri Kebo Iwa antara lain, Ki Taruna Bali, Sri Kebo Taruna, Kbo Waruya, Kbo Tarung Dangkal, Sri Jayakatong, Kebo Suwo Yowo, Mahiso Taruna Bali, Dewa Gede Kebo Iwa, Sanghyang Sinuhun Kidul, Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat, Bhatara Gede Gunung Gumang, Bhatara Gede Sakti, Bhatara Guru, Bhatara Amurbeng Ning Rat, dllllll ,,,, sesuai tugas dan fungsi beliau saat itu ,, Karena ahli dlm pembangunan tempat suci, taat menjalani aturan agama makanya beliau disebut Kebo Iwa// Kebo = kerbau (wahana) pengadegan, raga Sedangkan Iwa = itu, tat, Tuhan // Jadi Sri Kebo Iwa artinya turunan raja wahana tuhan. Dgn perkataan lain Kebo Iwa tiada lain adalah salah satu awatara Tuhan dalam penerapan nilai luhur spirit alam Bali
 — 


Jero Mangku Gede Pura Srijong dan Ketua Umum Pasemetonan Sri Karang Buncing, Made Supatra Karang terlihat asyik berbincang 

Batu Barak, "pees" (ludah) Ki Kebo Iwa di Pengeragoan

Seberang jalan terdapat Pura Subak Batu Barak, Desa Pengaragoan, Pekutanan (persis perbatasan Kab, Tabanan dengan Kab Jembrana) ,,


Kisah hidup Ki Kebo Iwa ada yg tertulis dan tak tertulis, yg diceritakan secara lisan turun temurun oleh tetua mereka dahulu. Salah satu cerita rakyat menurut penduduk setempat (Ds pengeragoan) yg mengatakan bhw batu merah yg ada di pesisi panta subak batu barak merupakan "pees" (ludah) dari Ki Kebo Iwa, yg kemungkinan tatkala beliau akan menyebrang ke Jawa. Sekitar 5 KM dari tempat ini terdapat pura Luhur Sri Jong di Desa Soka, Tabanan. Menurut Prasasti Pura Maospahit adalah tempat pwaregan (dapur) Ki Kebo Iwa. Dan Balai Panjang nya ada di Pura Puseh Beda, Sudimara, Tabanan. Perlu kajian lebih lanjut trankrip tsb
Loloan Area tempat batu barak ,, memang aneh,, hanya batu itu saja yg warna barak/merah, batu sekitar hitam ,,

Lokasabha Pasemetonan Sri Karang Buncing Kab, Jembrana

Ketua Umum Sri Karang Buncing sedang memberikan Buku Kebo Iwa kepada ketua baru Wayan Soden, sekretaris Wayan Suarma, Bendahara Nym Soka Karang ,,


Poto Bareng setelah lokasaba selesai ,


Ketua umum Pasemeonan Sri Karang Buncing, Bpk Made Supatra Karang sedang menyematkan pin Kebo Iwa kepada penasehat warga Kab Jembrana, Bpk Prof, DR, Ir, I Gede Mahardika, MS.



Sabtu, 3/3/2012 di Desa Baluk, Kec, Negara Lokasabha Pasemetonan Sri Karang Buncing dihadiri oleh pengurus pusat Pasemetonan Sri Karang Buncing, Made Supatra Karang, Ida pandita Dukuh Acharya Dhaksa, Jero Mangku Gamongan, Sekjen Bpk Nym Sudana SH (duduk depan dari kiri) ,,,


Lokasaba juga dihadiri oleh Perbekel Desa Baluk, Ketut Susana, Bendesa Baluk Ketut Sinda serta Kelian Adat Baluk Wayan Biska ,,


Ida Padita Dukuh sedang memberikan dharmawacana mengharapkan pengurus baru mendorong semeton Sri Karang Buncing ring Kab Jembrana nangiang 'kawikon". Yang disebut wiku bukan saja lahir dari sastra, bukan lahir dari turunan brahmana, bukan dari tamatan perguruan tinggi keagamaan. Seorang wiku ditentukan oleh tingkah laku ,,,,

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More